Wilayah Webe Dekrit - Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar dipastikan menghadiri panggilan pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dijadwalkan Senin pekan depan (3/10/2011). Juru Bicara KPK Johan Budi mengungkapkan, pihaknya menerima konfirmasi kehadiran dari Muhaimin.
"Pak Muhaimin, sudah ada konfirmasi yang bersangkutan akan datang hari Senin," kata Johan di Jakarta, Jumat (30/9/2011). Muhaimin akan dimintai keterangan sebagai saksi dalam kasus dugaan suap program Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah (PPID) Transmigrasi di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Nama Muhaimin terseret dalam kasus dugaan suap program Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah Transmigrasi (PPIDT) yang melibatkan dua pejabat Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, I Nyoman Suisanaya dan Dadong Irbarelawan.
Kedua pejabat Kemennakertrans bersama perwakilan direksi PT Alam Jaya Papua Dharnawati ditetapkan sebagai tersangka dengan tuduhan melakukan percobaan penyuapan terhadap Menteri Muhaimin. Ketiganya tertangkap tangan secara terpisah dengan alat bukti uang Rp 1,5 miliar.
Pada hari yang sama, KPK juga menjadwalkan pemeriksaan lanjutan terhadap unsur Badan Anggaran DPR Tamsil Linrung dan Olly Dondokambey. Selain itu, KPK menjadwalkan ulang pemeriksaan terhadap Menteri Keuangan Agus Martowardojo. Sedianya Agus juga dimintai keterangan sebagai saksi kasus PPID Transmigrasi hari ini. Namun karena sibuk, dia meminta penjadwalan ulang.
Jumat, 30 September 2011
Senin, 19 September 2011
Pimpinan DPR Tolak Buka Identitas Anggota Banggar di Surat PPATK
Jakarta - Pimpinan DPR mengungkap laporan PPATK terkait transaksi mencurigakan yang dilakukan seorang anggota Badan Anggaran DPR. Isu ini terus membesar, namun pimpinan DPR menolak mengungkap siapa identitas anggota Banggar DPR tersebut.
"Tidak mungkin dikatakan," ujar Wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso, kepada detikcom, Senin (19/9/2011).
Hal ini disampaikan Priyo menanggapi permintaan anggota Banggar DPR yang tengah diperiksa BK DPR, Wa Ode Nurhayati, yang merasa diincar pimpinan DPR. Ia meminta pimpinan DPR membuka rahasia yang terkesan menyudutkan dirinya tersebut.
Namun agaknya pimpinan DPR tak akan memenuhi permintaan Wa Ode. Karena mengumumkan identitas pemilik transaksi mencurigakan adalah tindakan melanggar hukum.
"Tidak usahlah," kilah Wakil Ketua DPR Pramono Anung.
Sebelumnya diberitakan Wa Ode yang juga anggota DPR asal FPAN tersebut pun telah menantang pimpinan DPR Priyo Budi Santoso dan Pramono Anung untuk menyebut nama pemilik 21 transaksi mencurigakan.
"Saya menantang beliau-beliau untuk sebut nama dan meneruskan ke pihak berwenang, lewat prosedur hukum yang berlaku," kata Wa Ode dalam pernyataannya yang diterima detikcom, Minggu (18/9/2011).
Wa Ode juga mempertanyakan penyebutan status mencurigakan atas 21 transaksi yang disampaikan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso. Politikus yang pernah buka-bukaan soal mafia anggaran di DPR ini juga merasa bukan dirinya yang disebut sebagai orang yang melakukan 21 transaksi mencurigakan itu.
"Bisa saja milik pimpinan Banggar yang disebut dalam kasus Nazarudin atau kasus Kemenakertrans," terangnya.
Kalau Wa Ode sendiri mengaku biasa bertransaksi di atas Rp 1 miliar. "Saya pengusaha konveksi, jadi kalau ada transaksi yang Rp 500 juta ke atas sampai Rp 1 miliar, itu biasa saja. Kalau transaksi segitu sudah sering sebelum menjadi anggota DPR," kata Wa Ode.
(van/vit)
"Tidak mungkin dikatakan," ujar Wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso, kepada detikcom, Senin (19/9/2011).
Hal ini disampaikan Priyo menanggapi permintaan anggota Banggar DPR yang tengah diperiksa BK DPR, Wa Ode Nurhayati, yang merasa diincar pimpinan DPR. Ia meminta pimpinan DPR membuka rahasia yang terkesan menyudutkan dirinya tersebut.
Namun agaknya pimpinan DPR tak akan memenuhi permintaan Wa Ode. Karena mengumumkan identitas pemilik transaksi mencurigakan adalah tindakan melanggar hukum.
"Tidak usahlah," kilah Wakil Ketua DPR Pramono Anung.
Sebelumnya diberitakan Wa Ode yang juga anggota DPR asal FPAN tersebut pun telah menantang pimpinan DPR Priyo Budi Santoso dan Pramono Anung untuk menyebut nama pemilik 21 transaksi mencurigakan.
"Saya menantang beliau-beliau untuk sebut nama dan meneruskan ke pihak berwenang, lewat prosedur hukum yang berlaku," kata Wa Ode dalam pernyataannya yang diterima detikcom, Minggu (18/9/2011).
Wa Ode juga mempertanyakan penyebutan status mencurigakan atas 21 transaksi yang disampaikan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso. Politikus yang pernah buka-bukaan soal mafia anggaran di DPR ini juga merasa bukan dirinya yang disebut sebagai orang yang melakukan 21 transaksi mencurigakan itu.
"Bisa saja milik pimpinan Banggar yang disebut dalam kasus Nazarudin atau kasus Kemenakertrans," terangnya.
Kalau Wa Ode sendiri mengaku biasa bertransaksi di atas Rp 1 miliar. "Saya pengusaha konveksi, jadi kalau ada transaksi yang Rp 500 juta ke atas sampai Rp 1 miliar, itu biasa saja. Kalau transaksi segitu sudah sering sebelum menjadi anggota DPR," kata Wa Ode.
(van/vit)
Senin, 07 Februari 2011
Komnas HAM Pelajari Dokumen Antasari
lBH-KBPPP Sektor sukasari bdg — Komisi Nasional Hak Asasi Manusia tengah mempelajari dokumen-dokumen terkait kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen, yang melibatkan mantan Ketua KPK, Antasai Azhar. Hal ini berkaitan dengan eksaminasi kasus tersebut yang tengah ditangani Komnas HAM. Eksaminasi bertujuan menyelidiki apakah kasus tersebut mengganggu rasa keadilan dan hak asasi manusia atau tidak.
Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim mengatakan, hingga kini pihaknya masih mempelajari dokumen-dokumen pengadilan terkait kasus pembunuhan Nasrudin.
"Dokumennya sedang dipelajari seperti dokumen kasus Williardi Wizard, pelaku yang lain, putusannya sedang kami pelajari. Karena kasus ini, kan (saling) berkaitan," kata Ifdhal di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin (7/2/2011).
Dikatakan Ifdhal, pihaknya bekerja sama dengan pihak pengadilan dan kuasa hukum yang berkaitan dengan kasus Antasari. Dalam proses yang berjalan, para pihak tersebut dinilainya cukup kooperatif dalam memberikan data yang dibutuhkan.
Eksaminasi terhadap kasus Antasari dilakukan Komnas HAM menyusul testimoni terpidana kasus korupsi pajak, Gayus H Tambunan. Dalam testimoninya, Gayus menyiratkan adanya rekayasa dalam kasus tersebut. Eksaminasi akan fokus pada hal-hal yang dirasa belum terpenuhi, seperti jaminan terhadap hak asasi atau jaminan terhadap proses hukum yang tidak diskriminatif. Hasil eksaminasi nantinya dapat menjadi pertimbangan dalam peninjauan kembali (PK) kasus Antasari.
Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim mengatakan, hingga kini pihaknya masih mempelajari dokumen-dokumen pengadilan terkait kasus pembunuhan Nasrudin.
"Dokumennya sedang dipelajari seperti dokumen kasus Williardi Wizard, pelaku yang lain, putusannya sedang kami pelajari. Karena kasus ini, kan (saling) berkaitan," kata Ifdhal di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin (7/2/2011).
Dikatakan Ifdhal, pihaknya bekerja sama dengan pihak pengadilan dan kuasa hukum yang berkaitan dengan kasus Antasari. Dalam proses yang berjalan, para pihak tersebut dinilainya cukup kooperatif dalam memberikan data yang dibutuhkan.
Eksaminasi terhadap kasus Antasari dilakukan Komnas HAM menyusul testimoni terpidana kasus korupsi pajak, Gayus H Tambunan. Dalam testimoninya, Gayus menyiratkan adanya rekayasa dalam kasus tersebut. Eksaminasi akan fokus pada hal-hal yang dirasa belum terpenuhi, seperti jaminan terhadap hak asasi atau jaminan terhadap proses hukum yang tidak diskriminatif. Hasil eksaminasi nantinya dapat menjadi pertimbangan dalam peninjauan kembali (PK) kasus Antasari.
Rabu, 26 Januari 2011
Senin, Cirus Jalani Pemeriksaan Pertama sebagai Tersangka
LBH-KBPPP Sektor Sukasari Bandung - Jaksa Cirus Sinaga akan dipanggil penyidik Polri sebagai tersangka pada Senin (31/1) mendatang. Pemanggilan ini terkait pemalsuan surat rencana tuntutan (rentut) dalam kasus Gayus Tambunan di Pengadilan Negeri Tangerang.
"Cirus akan dipanggil Senin (31/1) nanti," kata Direktur I Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Agung Sabar Santosa, di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (27/1).
Saat ditanya apakah pemanggilan itu menempatkan Cirus sebagai tersangka, ia mengakuinya. "Iya, (Cirus) sebagai tersangka," pungkasnya. Sebelumnya, Cirus Sinaga dipanggil untuk pertama kalinya pada 6 Januari 2011 lalu. Namun Cirus tidak memenuhi panggilan itu dengan alasan sakit.
Kemudian Cirus memenuhi panggilan kedua oleh penyidik Polri pada 12 Januari 2011. Namun statusnya dinyatakan sebagai saksi. Padahal Kabareskrim Polri, Komjen Pol Ito Sumardi, menyatan Cirus telah menjadi tersangka pada 12 November 2010 lalu.
Lalu pada Senin (24/1) lalu, saat raker dengan Komisi III DPR, Kapolri, Jenderal Pol Timur Pradopo akhirnya mengungkapkan Cirus sudah dijadikan tersangka saat mangkir dalam panggilan pertama. Pemanggilan ketiga yang akan dilakukan pada Senin (31/1) mendatang, terkait dengan status barunya itu.
"Cirus akan dipanggil Senin (31/1) nanti," kata Direktur I Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Agung Sabar Santosa, di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (27/1).
Saat ditanya apakah pemanggilan itu menempatkan Cirus sebagai tersangka, ia mengakuinya. "Iya, (Cirus) sebagai tersangka," pungkasnya. Sebelumnya, Cirus Sinaga dipanggil untuk pertama kalinya pada 6 Januari 2011 lalu. Namun Cirus tidak memenuhi panggilan itu dengan alasan sakit.
Kemudian Cirus memenuhi panggilan kedua oleh penyidik Polri pada 12 Januari 2011. Namun statusnya dinyatakan sebagai saksi. Padahal Kabareskrim Polri, Komjen Pol Ito Sumardi, menyatan Cirus telah menjadi tersangka pada 12 November 2010 lalu.
Lalu pada Senin (24/1) lalu, saat raker dengan Komisi III DPR, Kapolri, Jenderal Pol Timur Pradopo akhirnya mengungkapkan Cirus sudah dijadikan tersangka saat mangkir dalam panggilan pertama. Pemanggilan ketiga yang akan dilakukan pada Senin (31/1) mendatang, terkait dengan status barunya itu.
Sabtu, 22 Januari 2011
KPK Tindak Lanjuti Laporan Pengusaha Yang Ditawari Keringan Pajak dan Diperas
KPK Tindak Lanjuti Laporan Pengusaha Yang Ditawari Keringan Pajak dan Diperas
Menurut Wakil Ketua KPK Bidang Penindakan, Bibit S Rianto, KPK sedang mempelajari laporan para pengusaha itu. Jika KPK menemukan alat bukti kuat pada laporan itu, mereka akan langsung menindaklanjutinya.
“Ya kalau memang benar ada alat bukti nyata yang menguatkan laporan tersebut, kita akan langsung menindaklanjutinya,” kata Bibit saat dihubungi Republika, Ahad (23/1).
Bibit mengatakan, laporan dari para pengusaha itu adalah bentuk dukungan mereka terhadap KPK untuk memberantas tindak pidana korupsi di Indonesia. Dukungan itu akan diperkuat dengan melakukan kerjasama melalui tukar menukar informasi tentang pemberantasan korupsi.
Sebelumnya, Jumat (21/1) kemarin, para pengusaha yang tergabung dalam KADIN menemui sejumlah pimpinan KPK. Mereka melaporkan ditawari oleh petugas pajak untuk tidak membayar pajak sebagai mana mestinya dan diperas oleh oknum penegak hukum.
Presiden Masih Mempercayai Kinerja Satgas PMH
Presiden Masih Mempercayai Kinerja Satgas PMH
Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha, di Jakarta, Sabtu, mengatakan, Presiden Yudhoyono telah menerima laporan kerja Satgas di kediamannya di Puri Cikeas Indah, Bogor, Sabtu. "Presiden telah menerima laporan Satgas yang intinya sama dengan yang disampaikan oleh Satgas kepada publik beberapa hari yang lalu," jelas Julian.
Menurut dia, Presiden menilai Satgas telah bekerja secara profesional sesuai dengan mandat yang diberikan. "Presiden mempercayai kinerja Satgas yang telah bekerja secara profesional," ujarnya.
Satgas melaporkan kinerjanya kepada Presiden Yudhoyono minus kehadiran ketuanya Kuntoro Mangkusubroto. Hadir pula pada pertemuan itu Menko Polhukam Djoko Suyanto dan Menteri Keuangan Agus Martowardoyo.
Presiden Yudhoyono sebelumnya meminta satgas melaporkan hasil kerja mereka setiap sepekan sekali menyusul keterangan Gayus Tambunan setelah divonis tujuh tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang menuding satgas bentukan Presiden itu telah mempolitisasi kasusnya.
Jumat, 21 Januari 2011
Presiden Tunisia Ditumbangkan Tukang Sayur
VIVAnews - Barangkali ini adalah harga dari sebuah kekuasaan yang angkuh. Di Tunisia, Presiden Zine El Abidine Ben Ali, turun dari kursi kekuasaan dengan cara memalukan. Dia kabur ke luar negeri, karena tak mampu membendung kemarahan rakyat.
Meski telah berkuasa 23 tahun di negeri Afrika utara itu, Ben Ali harus lengser akibat dia tak mendengar keluhan seorang tukang sayur.
Adalah Mohamed Bouazizi, seorang tukang sayur, yang memicu kemarahan rakyat atas sang penguasa. Dia masih muda, usianya 26 tahun. Lelaki itu nekad membakar diri, setelah barang dagangannya disita polisi di kota Sidi Bouzid pada 17 Desember 2010. Berhari-hari dirawat di rumah sakit, Bouazizi akhirnya meninggal pada 4 Januari 2011.
Bouazizi adalah wajah rakyat Tunisia yang menderita. Negeri itu dilanda krisis pangan. Lapangan kerja sulit, dan rakyat hidup dalam politik yang tak peduli pada kritik.
Tak banyak pilihan bagi pemuda seperti Bouazizi. Lelaki itu adalah tiang keluarga, dan dia harus menghidupi ibu dan adiknya. Itu sebabnya, Bouazizi bekerja apa saja, termasuk menjadi penjual sayur dan buah.
Tak jelas benar latar pendidikannya. Stasiun berita CNN menyebut pemuda itu sebagai sarjana komputer. Lulus kuliah, Bouazizi sulit mendapatkan pekerjaan seperti sarjana lainnya di Tunisia. Itu membuat Bouazizi terpaksa mengasong, menjual sayur dan buah.
Tapi, adiknya Samia Bouazizi memberi versi berbeda, seperti dilaporkan oleh laman Gulf News. “Kakakku berusia 26 tahun, dan tak lulus sekolah menengah atas. Jadi dia berjualan buah dan sayur untuk menghidupi dirinya, dan keluarga,” ujar Samia.
Pada 17 Desember 2010, adalah hari sial bagi Bouazizi. Barang jualannya dirampas polisi. Alasannya, dia berdagang tanpa izin. Lelaki malang itu lalu mengadu ke kantor gubernur di Sidi Bouzid. Dia meminta keadilan. Tuntutannya sederhana: dia minta dagangannya dikembalikan, dan diizinkan berdagang kembali.
Tapi, teriakan Bouazizi seperti hilang ditiup angin. Tak seorang pejabat di kantor itu peduli. Bouazizi pun putus harapan. Dia lalu nekad: mengguyur dirinya dengan minyak, lalu menyulut api. Di depan kantor gubernur yang angkuh itu pun tubuhnya terbakar.
Meski tubuhnya dilalap api, jiwa Bouzizi tak melayang. Sebagian badannya hangus, dan dia menahan pedih berhari-hari di rumah sakit. Tapi akibat luka bakar yang parah, Bouazizi akhirnya meninggal.
Peristiwa itu lalu menyentak warga Tunisia. Bouazizi seperti menjadi juru bicara tragis bagi nasib mereka. Di tengah krisis pangan, pengangguran membekap Tunisia. Harga kebutuhan pokok, seperti roti, gandum dan gula, melejit tak terbeli. Rakyat pun murka. Demonstrasi meledak, dan kemarahan meluas ke sekujur negeri.
Lebih dari sepekan setelah Bouazizi membakar diri, Presiden Ben Ali membesuk pemuda malang itu. Dia datang ke rumah sakit pada 28 Desember 2010. Tapi Ben Ali tak peduli dengan kemarahan rakyat. Dia malah memberi cap teroris, bagi para demonstran yang onar.
Ben Ali bahkan mengerahkan aparat keamanan meredam aksi massa. Korban pun berjatuhan. Kebencian pada Ben Ali dan rezimnya makin menggila. Ben Ali kaget, tapi dia yang dulu berkuasa lewat kudeta tak berdarah pada 1987, terlambat. Kemarahan rakyat tak lagi terbendung.
"Saya sadar dengan tuntutan rakyat Tunisia. Saya juga sedih dengan apa yang tengah terjadi setelah 50 tahun mengabdi bagi bangsa ini, baik dalam dinas militer, berbagai posisi di pemerintahan, dan menjadi presiden selama 23 tahun," kata Ben Ali, seperti dikutip stasiun televisi Al Jazeera, Kamis malam, 13 Januari 2011 waktu
Rakyat Tunisia lalu tumpah ke jalan. Mereka menuntut Ben Ali turun. Akhirnya, pada 14 Januari 2011, Ben Ali yang tak lagi dipercaya rakyat itu pun diam-diam kabur ke Arab Saudi bersama keluarganya.
Tunisia kini dibiarkannya terombang-ambing. Tak ada pemerintahan transisi.
Aksi Bouazizi bahkan menjadi ilham bagi negara tetangga. Selama 15-18 Januari 2011, sudah 10 orang membakar diri sebagai bentuk protes kepada pemerintah. Mereka berasal dari Mesir, Aljazair dan Mauritania. Dua orang dilaporkan tewas, sisanya dalam keadaan kritis.(np)
Meski telah berkuasa 23 tahun di negeri Afrika utara itu, Ben Ali harus lengser akibat dia tak mendengar keluhan seorang tukang sayur.
Adalah Mohamed Bouazizi, seorang tukang sayur, yang memicu kemarahan rakyat atas sang penguasa. Dia masih muda, usianya 26 tahun. Lelaki itu nekad membakar diri, setelah barang dagangannya disita polisi di kota Sidi Bouzid pada 17 Desember 2010. Berhari-hari dirawat di rumah sakit, Bouazizi akhirnya meninggal pada 4 Januari 2011.
Bouazizi adalah wajah rakyat Tunisia yang menderita. Negeri itu dilanda krisis pangan. Lapangan kerja sulit, dan rakyat hidup dalam politik yang tak peduli pada kritik.
Tak banyak pilihan bagi pemuda seperti Bouazizi. Lelaki itu adalah tiang keluarga, dan dia harus menghidupi ibu dan adiknya. Itu sebabnya, Bouazizi bekerja apa saja, termasuk menjadi penjual sayur dan buah.
Tak jelas benar latar pendidikannya. Stasiun berita CNN menyebut pemuda itu sebagai sarjana komputer. Lulus kuliah, Bouazizi sulit mendapatkan pekerjaan seperti sarjana lainnya di Tunisia. Itu membuat Bouazizi terpaksa mengasong, menjual sayur dan buah.
Tapi, adiknya Samia Bouazizi memberi versi berbeda, seperti dilaporkan oleh laman Gulf News. “Kakakku berusia 26 tahun, dan tak lulus sekolah menengah atas. Jadi dia berjualan buah dan sayur untuk menghidupi dirinya, dan keluarga,” ujar Samia.
Pada 17 Desember 2010, adalah hari sial bagi Bouazizi. Barang jualannya dirampas polisi. Alasannya, dia berdagang tanpa izin. Lelaki malang itu lalu mengadu ke kantor gubernur di Sidi Bouzid. Dia meminta keadilan. Tuntutannya sederhana: dia minta dagangannya dikembalikan, dan diizinkan berdagang kembali.
Tapi, teriakan Bouazizi seperti hilang ditiup angin. Tak seorang pejabat di kantor itu peduli. Bouazizi pun putus harapan. Dia lalu nekad: mengguyur dirinya dengan minyak, lalu menyulut api. Di depan kantor gubernur yang angkuh itu pun tubuhnya terbakar.
Meski tubuhnya dilalap api, jiwa Bouzizi tak melayang. Sebagian badannya hangus, dan dia menahan pedih berhari-hari di rumah sakit. Tapi akibat luka bakar yang parah, Bouazizi akhirnya meninggal.
Peristiwa itu lalu menyentak warga Tunisia. Bouazizi seperti menjadi juru bicara tragis bagi nasib mereka. Di tengah krisis pangan, pengangguran membekap Tunisia. Harga kebutuhan pokok, seperti roti, gandum dan gula, melejit tak terbeli. Rakyat pun murka. Demonstrasi meledak, dan kemarahan meluas ke sekujur negeri.
Lebih dari sepekan setelah Bouazizi membakar diri, Presiden Ben Ali membesuk pemuda malang itu. Dia datang ke rumah sakit pada 28 Desember 2010. Tapi Ben Ali tak peduli dengan kemarahan rakyat. Dia malah memberi cap teroris, bagi para demonstran yang onar.
Ben Ali bahkan mengerahkan aparat keamanan meredam aksi massa. Korban pun berjatuhan. Kebencian pada Ben Ali dan rezimnya makin menggila. Ben Ali kaget, tapi dia yang dulu berkuasa lewat kudeta tak berdarah pada 1987, terlambat. Kemarahan rakyat tak lagi terbendung.
"Saya sadar dengan tuntutan rakyat Tunisia. Saya juga sedih dengan apa yang tengah terjadi setelah 50 tahun mengabdi bagi bangsa ini, baik dalam dinas militer, berbagai posisi di pemerintahan, dan menjadi presiden selama 23 tahun," kata Ben Ali, seperti dikutip stasiun televisi Al Jazeera, Kamis malam, 13 Januari 2011 waktu
Rakyat Tunisia lalu tumpah ke jalan. Mereka menuntut Ben Ali turun. Akhirnya, pada 14 Januari 2011, Ben Ali yang tak lagi dipercaya rakyat itu pun diam-diam kabur ke Arab Saudi bersama keluarganya.
Tunisia kini dibiarkannya terombang-ambing. Tak ada pemerintahan transisi.
Aksi Bouazizi bahkan menjadi ilham bagi negara tetangga. Selama 15-18 Januari 2011, sudah 10 orang membakar diri sebagai bentuk protes kepada pemerintah. Mereka berasal dari Mesir, Aljazair dan Mauritania. Dua orang dilaporkan tewas, sisanya dalam keadaan kritis.(np)
Langganan:
Postingan (Atom)



